Minggu, 18 September 2011

Kaos oblong, Kaos polo, Sweater, Hoodie, Jaket dan lainnya untuk keperluan Distro, Merchandise, Event kantor, atau seragam club anda.

 

Ruang Visual t-shirt hadir dengan penuh cinta dan kreatifitas melayani dengan hati untuk melayani pembuatan berbagai macam produk industri garmen dan tekstil untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun ekspor dengan produk unggulan seperti Kaos oblong, Kaos polo, Sweater, Hoodie, Jaket dan lainnya untuk keperluan Distro, Merchandise, Event kantor, atau seragam club anda.

Mau bikin Kaos oblong, order Kaos Polos, bikin Kaos Polo, Sweater, Hoodie, Jaket dan lainnya tetapi tidak memiliki banyak waktu untuk mendesain? Serahkan masalah ini kepada kami dan kami akan membantu untuk mendesain dan memproduksi kaos yang sesuai dengan keinginan anda... Mudah Bukan
       
Silahkan menjelajahi isi dari web kami untuk mendapatkan informasi lengkap tentang jenis produk dari kaos oblong, kaos polo, sweater, hoodie, jaket dan lainnya serta cara untuk melakukan pemesanan dan tentang informasi lainnya. Mohon tidak ragu untuk langsung menghubungi customer service kami di papan informasi dibawah ini ... Kami bangga dapat melayani anda
         
Kepuasan serta senyum dari anda menjadi sebuah semangat bagi kami untuk terus berkarya http://www.jaketkaos.com/

cari tempat bikin kaos online


gak perlu bingung bikin kaos di jogja mau dalam luar kota kita bisa.
Jumlah minimal 24 pcs buat luar kota tapi kalo udah langanan bisalah 15pcs saja.
Garansi berkualitas udah dari 2008 menangani jasa pembuatan kaos
kurang lebih 3 tahun kita menemani para pelanggan
sablon ruber berkualitsas, jahit rantai
kalo dah langanan banyak banget
hadiah-hadiah
dan kemudahan dari
member 
Jl.Gedongkuning selatan KG1/891 Pilahan Kidul 
rejowinangun gang kendalisodo Kotagede 55171 
phone : 081931194193 (rendra visual)





harga jaket januari 2010

Bahan
Jumlah
Harga @
Cocok untuk

Parasit

11-30
>30

RP. 85.000,00
Rp. 80.000,00


Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Promosi


Micro

11-30
>30

Rp. 80.000,00
Rp. 75.000,00

Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Promosi
Jaket Komunitas

Drill

11-30
>30

Rp.85.000,00
Rp. 80.000,00

Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Promosi
Jaket Komunitas
Jaket Variasi
Jaket Army

Ribstop

11-30
>30

Rp. 85.000,00
Rp. 80.000,00

Kemeja Lapangan
Jaket Variasi
Jaket Komunitas
Jaket Army

Flece (jumper)

11-30
>30

Rp. 115.000,00
Rp. 120.000,00

Jaket Sport
Jumper kualitas distro
Jumper Variasi


Adidas (jumper, jaket)

11-30
>30

Rp. 95.000,00
Rp. 90.000,00

Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Variasi
Jaket Komunitas
Jumper

Lotto (jaket sport)

11-30
>30

Rp. 95.000,00
Rp. 90.000,00


Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Variasi
Jaket Komunitas

Diadora (jaket sport)

11-30
>30

Rp. 90.000,00
Rp. 85.000,00

Jaket Sport
Jaket Casual
Jaket Variasi
Jaket Komunitas

Kanvas

12-30
>30

Rp. 95.000,00
Rp. 90.000,00

Jaket Distro
Jaket Casual
Jaket Komunitas
Jaket Army

Milano

12-30
>30

Rp. 95.000,00
Rp. 90.000,00


Jaket Resmi
Jaket Rapi
Jaket Kantor
Jaket Komunita

Harga 2 lusin atau 24 pcs per Desain
Bahan cotton combed soft 30s
kain putihRp. 38.000
kain hitam Rp.40.000
kain warna Rp.40.000-
Bahan cotton combed soft 20s
kain putih 40.000.00
kain hitam 43.000.00
kain warna 45.000.00
Sablon Rubber
Sablon 5- warna
Sablon ukuran maksimal A3+ (32cmX48cm)
Jahit
Packing Plastik
Penambahan warna sablon Rp 1000,- per warna
 



ORDER KAOS ONLINE. MUDAH, CEPAT, DAN HEMAT!
TINGGAL email biodata lengkap dan design . ORDER ANDA SEGERA DIPROSES. PEMBAYARAN DOWN PAYMENT (minimal 60%) LALU KONFIRMASI PEMBAYARAN . (luar kota)
 pengerjaan kaos 1 minggu
jaket 3 minggu-4 minggu
menyesuaikan jumlah

salam kaos , yuk bikin kaos


Kamis, 15 September 2011

beda factory outlet dan distro



Abstrak: Mode busana tidak pernah berhenti berputar dan berkembang, begitu pula dengan industri busana yang terus berlomba untuk mempengaruhi konsumennya.

Berbagai macam kiat dan strategi membidik pasar terus digali oleh para pengusaha, semua bertujuan agar produk busananya dapat diterima oleh masyarakat. Industri busana yang semakin beragam, membuat masyarakat semakin mudah untuk menentukan pilihan sesuai dengan kesempatan dan keinginan yang dibutuhkannya. 

Distro merupakan salah satu alternatif tempat belanja busana yang sedang digemari oleh kawula muda. Selain desain busananya yang eksklusif, warna dan jumlah produk yang terbatas membuat busana disini banyak diminati. 

Oleh sebab itu strategi membangun industri busana yang tepat sangat diperlukan untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan usaha kreatif ini.
Kata kunci: Strategi, industri fashion, distro


PENDAHULUAN
Busana merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi, karena fungsi dasarnya yang melindungi tubuh dan terpenuhinya unsur-unsur kesusilaan, disamping fungsi lain seperti; alat untuk mengekspresikan diri dan menunjukkan status sosial seseorang. Perkembangan mode yang berlangsung begitu cepat sangat mempengaruhi industri busana di Indonesia.

Dampak globalisasi sangat terasa, karena globalisasi menghadirkan peluang, sekaligus resiko dan tantangan. Salah satu karakteristik dari globalisasi dan pasar bebas adalah kompetisi. Untuk dapat memenangkan kompetisi, maka harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, sekaligus menuntut cara berfikir yang baru.
Industri busana yang ada di pasaran menawarkan bermacam-macam produk dengan berbagai macam kualitas untuk berbagai macam klaster.

Produk fashion yang paling bervariasi adalah busana remaja, hal ini tentu saja sangat berhubungan dengan usia mereka yang penuh dengan cita-cita dan imajinasi, serta ingin tampil beda dengan yang lain.

Beberapa gaya dan perilaku remaja serta ucapan-ucapan mereka seringkali menjadi trend, demikian pula cara berpakaian yang unik dan aneh-aneh sering menjadi sumber inspirasi bagi perancang busana.
Distribution Store, merupakan tempat penjualan produk fashion yang memiliki kekhasan anak-anak remaja.

Distro tidak dapat disamakan dengan Factory Outlet (FO), karena dari sisi idealisme, konsep serta produk yang dijualpun berbeda. FO menjual mass produk, sedangkan distro bersifat ekslusif. Desain busana dan ilustrasi, pemilihan warna dan label yang mencerminkan dinamika usia mereka, membuat produk fashion yang ditawarkan oleh distro ini menjadi alternatif pilihan bagi orang-orang yang ingin memiliki street fashion sendiri, eksklusif serta mencerminkan lifestyle yang kental akan roots yang independen.

Trend belanja busana ini tentu saja tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan manajemen yang baik dan analisis daya saing terhadap industri busana yang sudah ada. Strategi yang tepat untuk mempertahankan model usaha seperti ini, mutlak diperlukan agar dapat menampung kreativitas produk busana yang biasanya dibuat dalam skala kecil dan terbatas tersebut.

INDUSTRI FASHION
Industri fashion di Indonesia saat ini masih dibanjiri produk-produk impor yang murah (terutama dari Cina), yang mutunya juga tidak kalah dengan produk domestik. Oleh karena itu banyak eksekutif puncak dunia masa kini yang memberikan prioritas utama pada peningkatan dan pengendalian mutu produk, sehingga setiap bidang industri, termasuk industri tekstil garment/fashion tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengimplementasikan manajemen mutu total secara optimal untuk meningkatkan daya saing dan produktivitasnya di pasar domestik. (Pane. D, 2006:20)

Hal-hal yang perlu diprioritaskan dalam pengembangan industri fashion diantaranya adalah meningkatkan daya saing pada bidang-bidang pengendalian mutu (Quality Control/QC), pengiriman (Delivery) dan produktivitas (Produktivity) yang harus lebih ditingkatkan secara gradual dan terus menerus (Sustainability).

Selain hal tersebut ekspansi pasar domestik juga harus lebih dipromosikan, karena juga akan mendukung peningkatan ekspor garment, untuk ini dibutuhkan keterampilan-keterampilan manajemen dalam pengembangan produk (Product development), produksi dan distribusi harus diperbaiki, pelatihan-pelatihan professional bidang perancangan busana (fashion design) dan penambahan jenis produk.

Kegiatan-kegiatan perdagangan diaktifkan dan ditingkatkan lagi dengan mengadakan ekspansi pasar domestik untuk pakaian jadi yang mengikuti standar-standar industri.

Industri fashion bukan hanya sekedar bisnis peragaan busana, melainkan bisnis yang agar bisa sukses manajemennya harus ditangani secara serius dan lebih hati-hati seperti pada industri lainnya. Efisiensi produksi, mutu yang tinggi, ketepatan waktu pengiriman, system inventarisasi dan distribusi yang terkelola dengan baik dll. Manajemen yang baik dalam industri fashion juga memerlukan organisasi perusahaan yang baik pula.

Produksi harus benar-benar terencana untuk mencapai target dan harus berdasarkan permintaan-permintaan penjualan yang akurat. Untuk mengurangi inventarisasi, harus memproduksi secara efisien dan menghemat pemakaian bahan baku dan penyediaan barang jadi siap jual.

Bisnis fashion juga harus memenuhi persyaratan pelanggan seperti syarat-syarat pengiriman, mutu dan harga. Karena itu, kondisi tempat kerja juga harus menyenangkan dan menarik, agar dapat mempertahankan pegawai untuk bekerja memenuhi standar-standar permintaan pelanggan dan harus menunjukkan kinerja yang baik, agar dapat meyakinkan para pemodal untuk berorientasi dalam industri fashion.

DISTRIBUTION STORE (DISTRO)
Distribution Store atau yang lebih dikenal dengan distro, merupakan perwujudan dari konsep DIY (Do It Yourself) yaitu suatu konsep untuk melakukan segala sesuatunya secara sendiri dan mandiri.

Distro lahir dan tumbuh dari komunitas yang independen, distro pada awalnya merupakan wadah bagi penjualan album, merchandise serta pernak-pernik bagi band-band indie yang memasarkan produk mereka secara independen. Distro menjadi semacam counter culture bagi pelaku industri besar serta merupakan alternatif pilihan bagi selera mainstream masyarakat luas.

Distro, pada awalnya diperkenalkan oleh orang-orang yang tumbuh bersama komunitas independen. Mereka ingin membuat suatu usaha street fashion sendiri yang eksklusif dan mencerminkan lifestyle komunitas tempat mereka berasal.

Sesuatu yang masih langka atau jika boleh dikatakan tidak ada pada waktu itu. Ketika itu berbagai macam merk fashion yang kebanyakan bersifat mass produk atau dengan desain yang kebanyakan menjiplak pada fashion luar. Kalaupun ada street fashion tersebut berasal dari merk luar negeri dengan harga yang luar biasa pula.

Maka lahirlah distro-distro lokal dengan konsep eksklusif serta mengetengahkan idalisme komunitas mereka. Misalnya; komunitas skateboard, surfing, atau musik indie.

Pendirian distro tidak bergantung pada faktor-faktor yang berada di luar mereka, seperti modal misalnya, sebagian besar pelopor distro merintis usahanya dari modal kecil dan modal idealisme yang besar dan semangat juang yang tinggi.

Dari kacamata bisnis, distro dapat membesar dan dikategorikan kedalam industri tersendiri, karena distro sesunggunguhnya tidak akan melenceng dari konsep dan idealisme awal yang telah mereka tetapkan sewaktu pendirian distro tersebut. Mereka hanya akan merilis produk dan ide yang orisinil, desain hasil produksi sendiri serta cara-cara produksi dan pemasaran yang tetap eksklusif.

Sebagian besar dari distro berusaha agar tidak terseret arus menuju arah industrialisasi, tetapi seandainya mereka melenceng dari jalur dan memproduk suatu desain secara masal atau menjual produknya pada jalur-jalur yang mainstream, merekapun masih dapat menyebut diri sebagai distro. Tetapi konsumen yang smart pasti akan memilah mana distro yang memiliki idealisme serta konsep yang jelas dan mana yang murni bisnis belaka tanpa konsep dan isealisme yang jelas.

Distro tidak sama dengan Factory Outlet (FO), karena dari sisi idealisme, konsep serta produk yang dijualpun berbeda. FO menjual mass produk, sedangkan distro bersifat eksklusif.

FO menjual produk ekspor lisensi dari brand luar negeri dan merancang produk berdasarkan desain luar yang diproduksi ulang secara masal dengan sedikit modifikasi pada warna misalnya.

Movement serta cara-cara pemasaran antara distro dan FOpun jauh berbeda, perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan misi serta target, oleh karenanya dari sisi harga FO bisa lebih murah dibandingkan distro (Outlet Jongkok.net)

Produk busana yang ditawarkan di distro memiliki kekhasan anak-anak muda yang unik, ceria dan agak “nyleneh”. Ragam busana yang ditawarkan memiliki desain yang terkadang hingar bingar dan keluar dari “pakem” teori busana, tetapi justru hal seperti itulah yang mereka cari.

Eksklusifitas sebuah busana casual yang bercirikan anak muda dengan segala pernak-perniknya dapat dipenuhi dengan mengunjungi distro. Bahkan, jika dilihat fenomena yang terjadi saat ini, kaum muda merasa lebih percaya diri dengan busana yang tidak diproduksi masal oleh industri busana yang besar yang memiliki label ternama.

MEMBANGUN SEBUAH INDUSTRI FASHION
Peluang bisnis sebenarnya ada di sekitar kita, referensinya juga dapat diperoleh dari lingkungan kita juga dari membaca, mendengar cerita orang lain, seminar dsb. Namun untuk menangkap peluang itu dibutuhkan keberanian, kejelian dan kreativitas bisnis.(Chandra, 2005:29) Menjadi seorang pengusaha memang harus kreatif, bahkan seolah tiada hari tanpa kreativitas, karena itulah di dalam memilih suatu usaha seseorang juga harus kreatif.

Kreatif memerlukan proses, yaitu proses kreatif. Pada awalnya untuk kreatif perlu persiapan, meskipun secara tidak formal, kemudian tinggal bagaimana seseorang tersebut membuat suasana kerja itu kreatif. Pada prosesnya, kreatif membutuhkan konsentrasi. Padahal, pada saat melakukan konsentrasi kemungkinan seseorang akan menemui hambatan atau jalan buntu, sehingga tidak dapat berbuat apa-apa bahkan mengalami frustasi, dan sebenarnya frustasi merupakan bagian dari proses kreatif itu sendiri.
Pada dasarnya konsep bisnis yang dipakai distro adalah Do It Yourself, yaitu suatu konsep untuk melakukan segala sesuatunya secara sendiri dan mandiri.

Mulai dari pencarian ide orisinil mengenai apa yang akan dilakukan dan melaksanakan ide tersebut secara mandiri pula tanpa bergantung atau terpengaruh orang lain. Bagi sebagian orang yang melaksanakan konsep Do It Yourself dengan sungguh-sungguh, konsep tersebut dapat menjelma menjadi suatu idealisme dan way of life tersendiri.(Outlet Jongkok.net)

Fenomena yang selalu terjadi di masyarakat adalah, ketika suatu fashion diterima masyarakat, maka akan banyak yang mengikuti, sehingga menjadi trend yang sifatnya hanya sesaat. Industri fashion tidak bisa diprediksi dengan tepat, apa yang akan digemari oleh masyarakat hanya dapat diprediksi dengan dua kemungkinan; kena di pasaran atau bahkan meleset jauh.

Semua orang ingin menciptakan strategi bisnis yang logis dan membuat strategi itu terlaksana dengan baik. Akan tetapi, untuk mencapai hal ini kebanyakan organisasi bisnis masih menganggap sebagai tujuan yang sulit dipahami. Merancang dan mengimplementasikan strategi baru dan inovatif untuk mengeksploitasi peluang di dunia yang kompetitif adalah sesuatu yang mengecilkan hati.

Strategi sebuah perusahaan harus berevolusi sepanjang waktu sebagai suatu paduan dari strategi yang disengaja dan respons perusahaan terhadap kejadian-kejadian, belajar dari pengalaman dan munculnya informasi serta gagasan baru.

Hal ini merupakan proses penciptaan berulang dari pembuatan dan pengimplementasian keputusan, pengamatan, penganalisisan, dan pembelajaran dari hasil, dan kemudian membuat keputusan-keputusan menjadi baru. Menurut Mc Graw Hill, (2005:5) “Untuk membuat, merencanakan dan mengimplementasikan strategi, pertama orang harus belajar berpikir dalam suatu cara yang menggabungkan yang rasional dan yang naluriah untuk menganalisis baik hard maupun soft data untuk sampai pada interpretasi unik atas peluang.”
Konsep yang ditawarkan distro juga akan lenyap berganti dengan konsep baru yang lebih kreatif.

Oleh sebab itulah diperlukan strategi yang tepat untuk mengelola bisnis fashion ini. Strategi, merupakan konsep jangka panjang dan yang penting berkaitan dengan perubahan. Pemimpin bisnis, dalam upaya mencari masa depan yang cemerlang, harus mempertimbangkan apa yang mungkin ada di depan dan memahami kekuatan pendorong perubahan dan kemungkinan dampaknya pada bisnis.

Pemimpin usaha harus menentukan tindakan apa yang harus mereka ambil saat ini untuk bersiap menghadapi apa yang mereka harapkan dan kehendaki untuk masa depan.
Taktik, kebalikan dari strategi, berfokus pada masa kini.

Taktik menekankan diambilnya tindakan untuk melaksanakan strategi, seperti memenuhi permintaan, memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan, meningkatkan efisiensi dan mengontrol kualitas dan biaya agar memperoleh laba dan mencapai tujuan jangka pendek lainnya.

Istilah, tujuan, strategi dan taktik masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda meskipun ketiganya masuk kedalam fungsi perencanaan bagi manajemen. Tujuan: pada dasarnya, tujuan perusahaan (yang menganut Konsep Pemabaran Kemasyarakatan) adalah memberikan kepuasan kepada kelompok pembeli dan masyarakat yang lain dalam pertukarannya untuk mendapatkan sejumlah laba, atau rasio antara penghasilan dan biaya yang menguntungkan.

Strategi: adalah suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut. Beberapa perusahaan mungkin mempunyai tujuan yang sama, tetapi strategi yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut dapat berbeda. Jadi strategi ini dibuat berdasarkan suatu tujuan. Taktik: adalah tahap-tahap atau langkah-langkah tertentu yang dipakai untuk melaksanakan strategi. Jika manajemen sudah merumuskan tujuan dan strateginya, maka ia berada dalam posisi untuk menentukan taktik.

Pada umumnya strategi bersifat permanen sehingga sulit dan memakan biaya besar jika diadakan perubahan. Sedangkan taktik sering diubah, apabila taktik lama dianggap kurang memuaskan. Jadi, pada dasarnya taktik ini merupakan alat jangka pendek untuk menunjang strategi. (Dharmmesta, 2000:2.21)

Bukti bahwa strategi dan operasi mutakhir bisnis itu efektif adalah profitabilitas dan trend yang positif. Manajemen harus terus menerus mempertanyakan apakah strategi mutakhir ini akan tetap berhasil di masa depan. Walaupun sebagian strategi dapat bertahan lama, strategi yang berhasil tidak akan bertahan selamanya. Lingkungan berubah, persaingan menajam, dan persyaratan akan bakat kepemimpinan bergeser, strategi harus berubah sebagai respon.

Keberuntungan hanya akan datang kepada mereka yang mempersiapkan diri. (Boone & Bloom, 2006:41) Dalam pemasaran, berada pada tempat yang tepat berarti menyesuaikan diri dengan lingkungan pemasaran.

Lingkungan pemasaran terdiri dari kekuatan sosial utama yang tidak dapat dikendalikan, namun dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan agar dapat beroperasi secara efektif dan menghasilkan keuntungan yang diinginkan. Lingkungan pemasaran akan berubah terus menerus, dan diperlukan kemampuan untuk dapat mengadaptasikan bisnis agar dapat mengambil manfaat dari setiap peluang agar dapat menghindari diri dari segala hal yang mengancam bisnis.

Beberapa faktor sosial dan politik mempengaruhi daya tarik lingkungan tempat suatu bisnis berfungsi, termasuk demografi dan trend, hukum dan regulasi, pajak dan subsidi, kekuatan kelompok minat khusus, serikat buruh dan sikap masyarakat. Ada lima kekuatan yang mendefinisikan persaingan industri (Michael Porter dalam Boone & Bloom, 2006:35): 1. Ancaman dari pemain baru
2. Kekuatan pembeli
3. Kekuatan pemasok
4. Ancaman dari produk pengganti
5. Intensitas persaingan di kalangan para pesaing yang ada
Masing-masing kekuatan ini menanamkan pengaruh pada daya saing dan profitabilitas industri.

MEMENANGKAN PASAR MELALUI PERENCANAAN STRATEGIS
Bagaimana suatu perusahaan dapat bersaing dalam pasar global, adalah adanya komitmen untuk menciptakan dan mempertahankan kepuasan pelanggan, dan perusahaan yang berhasil serta memiliki kinerja yang baik tahu bagaimana cara menyesuaikan diri dengan pasar yang terus-menerus berubah. Mereka menjalankan seni perencanaan strategis yang berorientasi pasar.

Perencanaan strategis yang berorientasi pasar, menurut Kotler (1997:57), adalah proses manajerial untuk mengembangkan dan menjaga agar tujuan, keahlian, dan sumber daya organisasi sesuai dengan peluang pasar yang terus berubah. Tujuan perencanaan strategis adalah untuk membentuk dan menyempurnakan usaha dan produk perusahaan sehingga memenuhi target laba dan pertumbuhan.

Konsep yang mendasari perencanaan strategis muncul pada tahun 1970an sebagai tanggapan atas kejutan beruntun yang menghantam industri Amerika Serikat-krisis enerji , inflasi yang tinggi, stagnasi ekonomi, keunggulan kompetitif perusahaan Jepang, deregulasi industri-industri penting.

Perusahaan-perusahaan Amerika tidak dapat lagi hanya mengandalkan pada proyeksi pertumbuhan sederhana dalam perencanaan produksi, penjualan dan laba. Saat ini, tujuan utama perencanaan strategis adalah untuk membantu perusahaan memilih dan mengelola usahanya sehingga perusahaan akan tetap sehat walaupun peristiwa yang tidak diharapkan melanda usaha atau lini produk tertentu.
Perencanaan strategis memerlukan tiga kekuatan kunci.

Pertama, adalah perlu mengelola usaha perusahaan sebagai suatu portofolio investasi. Setiap usaha memiliki potensi laba yang berbeda, dan sumberdaya yang dimiliki perusahaan harus dialokasikan dengan tepat. Kedua, mencakup pengevaluasian setiap unit usaha secara tepat dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar dan posisi serta kesesuaian perusahaan dalam pasar tersebut.

Ketiga, strategi, setiap usaha harus mengembangkan suatu rencana permainan untuk mencapai tujuan jangka panjangnya. Karena, tidak ada suatu strategi yang optimal bagi semua perusahaan dalam usaha tersebut, setiap perusahaan harus harus menentukan strategi apa yang paling sesuai dari sudut pandang posisi industri dan tujuan, peluang, keahlian, dan sumber dayanya. Setiap strategi dapat berhasil dalam situasi yang tepat.

Rencana strategis untuk sebuah unit bisnis atau bisnis independen merupakan dokumen konseptual high-level yang mencanangkan tujuan bisnis dan menentukan arahnya. Tujuan utama suatu bisnis dapat dideskripsikan dari segi siapa yang akan dilayaninya, jenis produk atau jasa yang diberikan, dan bagaimana secara umum, bisnis itu berencana memenuhi kebutuhan pelanggan sasarannya. Kejelasan strategis mengenai tujuan bisnis ini merupakan sesuatu yang kritis karena tujuan itu menggambarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan perusahaan itu.

MENANG PERSAINGAN DENGAN KEY SUCCESS FACTOR
Suatu usaha tanpa pesaing akan terasa hambar, kurang semangat, kurang menggairahkan dan tidak bisa dibandingkan. Namun banyaknya pesaing juga membuat ancaman. Apalagi jika pesaing tersebut memiliki banyak kelebihan dari usaha tersebut. Ada teori ESKF (External Key Success Factor) dan IKSF (Internal Key Success Factor). Teori inilah yang biasa dipakai untuk menganalisis kondisi perusahaan dengan kondisi perusahaan pesaing.

ESKF adalah faktor-faktor kunci kesuksesan dari luar suatu perusahaan pada bidang usaha tertentu, namun karena pesatnya persaingan, untuk bisa lebih sukses dari pesaing atau pemain yang sudah ada, maka perlu digali juga IKSF atau keunggulan-keunggulan kita sendiri, selain tetap memanfaatkan ESKF pesaing.

Persaingan dalam usaha sangatlah lumrah dan alami. Untuk bisa memenangkan persaingan diperlukan penggalian, pengembangan dan penerapan kunci sukses secara internal maupun eksternal. Bila kunci sukses dirasakan belum cukup, maka dapat ditambahkan ‘nilai lain yang bisa mendongkrak omset usaha. Usaha yang berhasil tidak pernah berhenti dari kreativitas, inovasi, dan pembenahan.

Kunci sukses yang lain dalam usaha adalah kejujuran, bagi seorang pengusaha, sifat jujur ibarat mata uang yang berlaku di mana-mana. Menurut Pradhana (2006:197), pengusaha yang jujur akan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi di mata para mitra dan koleganya. Kepercayaan dari orang sangatlah penting (investor, karyawan, pemasok, pesaing, dan customer), kesemua unsur tersebut akan memberi sisi positif jika pengusaha bersikap jujur kepada mereka.

KESIMPULAN

Industri fashion di Indonesia saat ini masih kalah bersaing dengan produk-produk dari luar negeri terutama dari Cina. Hal ini semata-mata disebabkan oleh pelaksanaan manajemen yang tidak sesuai dengan standar internasional.

Pasar domestik dibanjiri dengan produk-produk impor murah yang kualitasnya tidak kalah dengan dengan produk domestik.
Namun demikian, pasar tidak dapat didikte, karena trend busana yang sekarang terjadi adalah kebosanan kawula muda terhadap produk masal.

Mereka lebih menyukai street fashion daripada fashion dengan label industri besar. Lahirnya distro-distro lokal dengan konsep eksklusif yang mengetengahkan idealisme serta mencerminkan lifestyle yang kental akan roots yang independen, menjadi alternatif pilihan mereka.

Pendirian distro tidak bergantung pada faktor-faktor yang berada di luar mereka, seperti modal misalnya, sebagian besar pelopor distro merintis usahanya dari modal kecil dan modal idealisme yang besar serta semangat juang yang tinggi.

Konsep yang ditawarkan distro suatu saat akan lenyap berganti dengan konsep baru yang lebih kreatif. Oleh sebab itulah diperlukan strategi yang tepat untuk mengelola bisnis fashion ini. Memang suatu usaha tanpa pesaing akan terasa hambar, kurang semangat, kurang menggairahkan dan tidak bisa dibandingkan. Namun banyaknya pesaing juga membuat ancaman.

Suatu perusahaan dapat bersaing di pasar, karena adanya komitmen untuk menciptakan dan mempertahankan kepuasan pelanggan, dan perusahaan yang berhasil serta memiliki kinerja yang baik tahu bagaimana cara menyesuaikan diri dengan pasar yang terus-menerus berubah.

Untuk bisa memenangkan persaingan diperlukan penggalian, pengembangan dan penerapan kunci sukses secara internal maupun eksternal. Bila kunci sukses dirasakan belum cukup, maka dapat ditambahkan ‘nilai lain yang bisa mendongkrak omset usaha. Usaha yang berhasil tidak pernah berhenti dari kreativitas, inovasi, dan pembenahan.

DAFTAR PUSTAKA
Boone, Louise N & Bloom, Paul N. 2006. Strategi Pemasaran Produk: 18 Langkah
Membangun Jaring Pemasaran Produk yang Kokoh. Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher.
Dharmmesta, Basu Swasta. 2000. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
Hill. McGraw. 2005. How To Plan and Execute Strategy. Jakarta: PT Media Global
Edukasi.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran; Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Kontrol. Jakarta: PT Prehallindo.
Pane, Dharmayuwati. 2006. Strategi Pengembangan & Pengendalian Mutu Produk Tekstil
& Garment dalam Meningkatkan Daya Saing di Pasar Global. Makalah disajikan dalam
Seminar Nasional “Meningkatkan Potensi Daerah Melalui Optimalisasi Manajemen
Industri Fashion” UNNES Semarang. 20 Juni 2006
Pradhana, Masbukhin. 2006. Cara Brilian menjadi Karyawan Beromzet Miliaran. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo Kelompok Kompas-Gramedia.
Ukhies. 2006. Distro Versus Factory Outlet.
(www.yahoo.com.fashiondistro.outletJongkok.net), diakses 25 Agustus 2006.

jualan kaos online omset miliaran rupiah

2011 banyak terlahir digitalpreneur yang kreatif dan inovasi, contoh saja ganti baju.com omset miliaran rupiah dengan cara kontes design kaos, jualan kaos, dan community design t-shirt menerapkan gaya web 2.0 yang dilakukan secara on line.

Wawancara Dengan Founder Gantibaju.com Tentang Kiat Sukses Bisnis
sumber http://www.urbansosial.com/

Pada interview perdana ini, UrbanSosial.com mendapatkan tamu yang sangat istimewa yaitu kedatangan salah satu founder Gantibaju.com, yaitu Aria Rajasa yang bisa ditemui di akun Twitternya @rajasa. Walaupun beliau banyak sekali kegiatan, namun Aria Rajasa telah meluangkan sedikit (mungkin banyak) waktu untuk berbagi kisah sukses kepada kita semua tentang “resep dapur” dalam membangun bisnis onlinenya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih semangat lagi dalam berkarya.

Bagi yang belum berkenalan, Gantibaju.com adalah creative clothing line yang menggabungkan clothing line, e-commerce, dengan kontes design kaos terbesar di Indonesia dimana desain-desain kaos yang diproduksi oleh Gantibaju.com adalah desain-desain kiriman dari para anggotanya berdasarkan voting anggota yang lain dan dari hasil penilaian juri-juri khusus yang kompeten di bidangnya. Para Pemenang yang terpilih desainnya akan mendapatkan uang tunai dan royalti dari penjualan kaos tersebut.

Walaupun mungkin ada beberapa diantara kita sudah mendengar tentang model bisnis yang serupa diluaran sana, tapi ada hal yang membuat Gantibaju.com unik dan berbeda yaitu, nuansa Indonesia yang selalu kita dorong di setiap desain-desainnya. Hanya desain-desain keren yang memiliki nuansa Indonesia lah yang akan Gantibaju.com terima dalam mengikuti kontesnya. Untuk lebih detail tentang mereka, Anda bisa mengunjunginya di http://www.gantibaju.com.

Ok, inilah wawancara UrbanSosial.com dengan Mas Aria Rajasa, salah satu founder dari Gantibaju.com:

Halo apa kabar kawan-kawan di Gantibaju.com? Makin keren aja nih. Katanya sudah dapat awards ya kemarin? Bisa ceritakan?

Halo, kemarin kami baru saja menang sebagai juara 1 kompetisi SWA Startup untuk kategori Bisnis juga, awal yang baik untuk tahun 2011. Selain itu kami juga menang di SparxUp Award sebagai Most Promising Startup dan juga predikat Top 100 Application di Asia oleh e27, Singapura.

Oh ya, sebelumnya. Untuk yang belum kenal  lebih jauh, bisa ceritain kisah singkat Gantibaju.com tentang awal mula berdiri sampai dengan berkembang hingga saat sekarang?

Gantibaju.com berdiri sejak Februari 2010, dan kini telah memiliki lebih dari 15000 member, 8000 desainer. Lebih dari 1500 orang pernah mengirimkan desainnya untuk mengikuti 9 tema desain yang pernah dirilis. Gantibaju.com telah menjalin kerjasama dengan beberapa brand lokal seperti Koprol (situs jejaring sosial lokal berbasis lokasi yang baru-baru ini diakusisi oleh Yahoo!), Raditya Dika (penulis muda populer dengan karyanya berjudul Marmut Merah Jambu), B Channel TV (stasiun televisi lokal yang memfokuskan diri pada acara-acara berkualitas dan mendidik), dan XL Axiata (salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia).
Gantibaju.com memiliki 3 Founder yaitu Aria Rajasa yang bertindak sebagai CEO, Anang Pradipta yang bertindak sebagai CMO dan Community Manager dan Setyagus Sucipto yang bertindak sebagai CTO. Pada Februari 2009 Gantibaju.com memiliki 8 orang karyawan, yang sekarang telah bertumbuh sampai 15 orang karyawan.

Apa yang Gantibaju.com lakukan diawal-awal berdiri untuk mengenalkan merek jualan online kalian supaya lebih banyak dikenal orang?

Kami melacak komunitas-komunitas designer yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri dan kurang di-expose, kemudian kami datang dengan konsep gantibaju.com dan ternyata mereka sangat antusias kepada konsep kami.
Semenjak itu, kami bekerjasama dengan banyak komunitas designer untuk menumbuhkan jumlah designer baru di gantibaju.com dan juga datang ke acara-acara komunitas designer seperti event pameran Karya Akbar, Diskomfest untuk memberikan support dan semangat kepada mereka, karena pada dasarnya Gantibaju.com dan mereka memiliki semangat yang sama, yaitu memperbaiki dan meningkatkan apresiasi kepada design.
Selain itu kami juga aktif melakukan pendekatan kepada para customer melalui social media seperti Facebook dan Twitter, dimana disana banyak kegiatan unik yang kami buat bersama para customer dan future customer.

Sebagai pemilik merek tentunya memiliki dan menjalin komunitas yang setia pada merek pastilah merupakan suatu faktor yang sangat penting. Apa yang dilakukan Gantibaju.com untuk melakukan hal tersebut?

Kami melakukan beberapa hal yang menurut kami krusial untuk memastikan komunitas Gantibaju.com sangat setia. Hal ini dibagi menjadi dua sisi, yaitu dari sisi konsumen dan designer kaos kami.
Untuk konsumen, kami memberikan beberapa hal berikut ini:
- Garansi
Produk Gantibaju.com tidak lepas dari yang namanya cacat, walaupun porsinya sangat kecil, tapi pasti ada. Produk cacat adalah hal kecil, sementara kepercayaan konsumen yang cacat merupakan hal besar. Untuk itu diberikan garansi yang mencakup kepercayaan dan produk. Dimana setiap produk Gantibaju.com yang cacat, boleh langsung dikembalikan kepada kami, dan akan kami ganti baru. Apabila barang sampai ke tangan konsumen tetapi tidak cukup atau salah ukuran, juga kami ganti baru.
- Testimonial
Kami juga mengandalkan testimonial untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Testimonialnya kami buat dalam 2 bentuk, yaitu teks dan visual. Testimonial dalam bentuk teks ada di kolom Tee Talk yang berisi testimonial para pengguna kaos tersebut. Sementara dalam bentuk gambar, kami berikan kolom Pojok Narsis berisi testimonial dalam bentuk foto-foto yang dikirimkan oleh konsumen.
- Event Berhadiah
Untuk semua kalangan, kami banyak memberikan event berhadiah untuk meningkatkan kepercayaan konsumen bahwa perusahaan ini benar benar eksis. Event berhadiah ini tidak sekedar bagi-bagi kaos, handphone dan sebagainya, akan tetapi benar-benar mempertemukan kedua belah pihak antara calon konsumen dengan Gantibaju.com.
Bagi designer, kami memberikan apresiasi lebih dengan membawa mereka ke event-event yang skala nya lebih besar lagi.
- Memberikan Expose Desainer Lokal ke Pasar Nasional dan Internasional
Gantibaju.com merupakan platform benchmark untuk desainer-desainer Indonesia karena selektivitasnya. Gantibaju.com memposisikan diri sebagai kurator penyaring desain sehingga hanya desain yang berkualitas yang dapat ditampilkan di situs Gantibaju.com. Beberapa majalah desainer juga menjadikan Gantibaju.com sebagai acuan untuk mengangkat beberapa desainer baru yang terlihat bakatnya di Gantibaju.com.
- Gathering
Gathering sangat penting karena disinilah bibit bibit evangelist / loyalist dari sebuah startup dapat di lihat. Gantibaju.com mengadakan gathering rutin dari daerah ke daerah untuk merangsang keterlibatan para member lebih dalam lagi di situs Gantibaju.com
- Program Regional
Setelah gathering di daerah selesai, biasanya ada tugas yang diharapkan dikerjakan oleh para peserta gathering tersebut. Program-program ini sekali lagi di tujukan untuk mengangkat keterlibatan para designer dengan brand Gantibaju.com beberapa derajat lebih dalam lagi.
- Menyertakan Designer Pada Setiap Seminar
Gantibaju.com juga mengajak designer untuk menjadi pembicara seminar dan ikut sharing pada setiap seminar yang diadakan oleh Gantibaju.com, sehingga designer merasa terangkat dan terbantu oleh kegiatan yang diadakan oleh Gantibaju.com.
Masyarakat umum juga dapat melihat perubahan yang terjadi pada setiap Designer yang ikut di Gantibaju.com, langsung dari orangnya. Sudah banyak designer yang terbantu oleh Gantibaju.com, diantaranya sudah bisa menembus pasar internasional dan sudah banyak yang mendapat pengakuan dari luar negeri.

Berapa banyakah kompetitor Gantibaju.com yang juga meramainkan bisnis fashion  berkonsep online di Indonesia? Dan juga sekaligus taktik Gantibaju.com untuk memenangkan pertarungan merek ini?

Sampai akhir tahun 2010, belum ada online store dengan konsep yang mirip seperti ini di Indonesia. Akan tetapi di awal tahun 2011, terlihat setidaknya ada 4 online store yang mirip konsepnya mirip. Gantibaju.com beruntung karena menjadi pionir, dan telah dimuat di berbagai media nasional, sehingga coverage akan bisnis ini telah cukup besar.
Komitmen terbesar kami adalah kepada para designer dan konsumen kami. Sehingga baik Gantibaju.com maupun merek lain akan berlomba-lomba dalam memberikan fasilitas lebih kepada para designer. Tentunya hal ini disesuaikan dengan visi masing masing perusahaan.
Pertarungan merek belum dirasa signifikan, akan tetapi adanya kompetitor mengharuskan kami semua lebih kreatif dalam mensiasati pasar yang telah lebih dulu dibentuk demand-nya oleh Gantibaju.com.

Wow, ada spot yang paling menarik mata di website Gantibaju.com, yaitu “Pojok Narsis”. Bisa ceritakan tentang ide hebat ini?

Kami menyadari bahwa kekuatan terbesar dari komunitas adalah endorsement antar komunitas itu sendiri. Sehingga Pojok Narsis dibentuk untuk menjawab hal ini. Semudah memberikan testimonial, Pojok Narsis menjawab kebutuhan komunitas dan tentunya anak anak muda yang berani tampil untuk menjadi bagian dari Gantibaju.com dengan media foto.

Apakah Gantibaju.com pernah menggunakan jasa media konvensional (media cetak, radio, dan tv) untuk memasarkan produk? Ataukah hanya mengandalkan kekuatan dari komnitas dan juga media online semata?

Kami pernah menggunakan jasa media konvensional seperti media cetak dan radio. Akan tetapi untuk sesuatu yang online, diperlukan lebih dari itu. Karena pada dasarnya pada sebuah website online, apalagi website jualan, diperlukan edukasi dan trust building yang cukup lama. Hal ini tidak bisa di dapatkan dari penggunaan media konvensional.
Disesuaikan dengan target market juga, tidak relevan bagi mereka apabila dalam membangun trust, kami menggunakan media konvensional. Maka pilihan menggunakan media sosial secara agresif lebih masuk akal.

Social media saat sangat berperan penting dalam pengembangan bisnis apapun karena memang semua hal tertuju kesana saat ini, lalu strategi  apa yang Gantibaju.com lakukan untuk “lebih eksis” di social media sebagai  salah satu alat berjualan yang ampuh?

Kami tidak memposisikan media sosial sebagai alat jualan ataupun outlet. Nature pengguna media sosial menolak penggunaan media sosial sebagai sarana jualan / beriklan. Semua yang beriklan mentah-mentah di social media pasti gugur. Maka yang banyak kami lakukan dengan media sosial adalah edukasi dan pembibitan future customer itu sendiri. Customer yang akan membeli kaos tetap harus ke website atau toko kami. Akan tetapi, mereka telah mengetahui persona dari Gantibaju.com dan kesesuaian persona brand dengan image mereka inilah yang menciptakan adanya pembelian.

Walaupun target pasar Gantibaju.com sepertinya hanya menyentuh pasar lokal, lalu apakah kalian kedepannya akan merambah bisnisnya pada pasar global? Dengan menyediakan website multi bahasa misalnya?

Target pasar kami tidak hanya pasar lokal, melainkan justru diposisikan untuk bersaing langsung sebagai kaos oleh-oleh. Karena itu pada setiap produk kami ada penjelasan komprehensif mengenai design pada kaosnya dengan bahasa Inggris. Tujuannya adalah, agar customer / turis asing yang membeli kaos ini, mengenal tokoh / peristiwa yang diangkat melalui design kaos tersebut.
Untuk multibahasa, kami memang sedang mempersiapkan hal itu.

Apa kesulitan yang Gantibaju.com hadapi untuk mengembangkan bisnis ini?

Awalnya, konsep bisnis seperti ini tidak memiliki demand di Indonesia. Jadi kami harus menciptakan demand-nya sendiri. Kemudian, berjalan waktu, kesulitan ada pada penyaringan designernya yang berkemampuan untuk membuat design yang sesuai dengan kualitas minimum yang diinginkan oleh Gantibaju.com.
Lalu sampai tahap tertentu, kesulitan ada pada design-design yang harus di saring dan disesuaikan dengan Gantibaju.com. Dan sekarang, kesulitannya adalah memutuskan design yang dicetak atau tidak. Karena saat ini, hampir 100% design yang masuk ke Gantibaju.com sudah layak cetak dan sesuai dengan kualitas yang diinginkan oleh pihak Gantibaju.com.

Walaupun agak pribadi, tapi kita disini mungkin bisa  banyak belajar dari Gantibaju.com, hehe. Stttt.. berapa banyak sih total orang yang sudah mendaftar dan seberapa persen pula dari mereka yang selalu aktif untuk memberi produk kalian?

Kami memiliki sekitar 15.000 orang member, diantara mereka, ada sebagian kecil yang membeli. Dari sebagian kecil itu, ada sebagian lagi yang selalu membeli kaos gantibaju.com.
Saat ini termasuk Teuku Wisnu, Mario Irwinsyah, Dennis Adhiswara, Alex Abbad, Raffi Ahmad dan beberapa artis lain termasuk dari mereka yang selalu membeli kaos-kaos Gantibaju.com.

Apa yang akan Gantibaju.com lakukan dalam pengembangan bisnis ini untuk waktu-waktu kedepannya?

Banyak. Terutamanya dalam mendukung visi kami dalam empowering designer, ada banyak sekali ide bisnis yang bisa dikembangkan kedepannya.

Pertanyaan terakhir. Apa yang Gantibaju.com bisa sampaikan kepada teman-teman kita yang lain, yang ingin juga mengembangkan bisnis onlinenya supaya bisa lebih berkembang seperti Gantibaju.com?

Ada banyak sih ya, tapi kami berikan yang krusial saja deh. Pertama, korelasikan brand bisnis anda dengan kebutuhan dari customer. Sehingga customer membeli karena brand anda merupakan hal yang dibutuhkan oleh customer.
Kedua, dengarkan customer. Masukan customer seringkali baik dan perlu digunakan sebagai patokan untuk refleksi dengan brand anda. Sesuai atau tidaknya brand anda dengan customer yang dituju, direfleksikan dari masukan masukan yang ada.
Ketiga, stick pada visi. Fokus untuk menggaet bagian tertentu saja dari bisnis ini, disesuaikan dengan visi perusahaan. Akan sangat repot dan ribet apabila berusaha menjembatani seluruh aspek dari konsumen. Jembatani beberapa hal saja yang memang benar benar merupakan kebutuhan konsumen.

HATI HATI PENIPUAN -Tips aman order kaos online


Beberapa waktu terakhir tempat order kaos (vendor) di Jogja sempat dibuat jengkel oleh ulah seseorang yang telah melakukan penipuan terhadap konsumen melalui cara pura-pura menjadi tempat pengerjaan order kaos di Jogja. 
Sampai saat ini pelakukanya belum tertangkap dan belakangan diketahui ternyata korbannya lebih dari 3 orang dengan nominal yang tidak sedikit. Ini sangat mengganggu dan secara significant menurunkan tingkat kepercayaan konsumen diluar jawa kepada tempat order kaos di Jogja. 
Modus operandi yang digunakan oleh si pelaku terbilang sangat rapi, yaitu dengan membuat account facebook dengan nama usahanya dan memberikan keterangan seputar fokus usahanya dibidang pengerjaan order kaos. Sehubungan dengan pengalaman kurang mengenakan diatas saya ingin berbagi tips kepada anda untuk meminimalisir terulangnya kembali kejadian serupa yang tentu saja sangat merugikan anda sebagai konsumen.

Pertama, ini adalah cara yang paling mudah dan aman jika anda akan order kaos secara online, yaitu dengan meminta tolong kerabat, teman atau orang kepercayaan anda untuk datang langsung ke workshop penyedia layanan jasa pembuatan kaos yang anda inginkan. Jika pemilik usaha atau orang yang akan anda tunjuk untuk mengerjakan order kaos anda menolak untuk dikunjungi dengan alasan hanya melayani order online segera coret dari daftar anda, dan segera cari tempat order kaos lainnya. Bagaimana jika saya tidak ada saudara ditempat order kaos yang saya inginkan? lakukan cara yang kedua.

Kedua anda bisa melakukan cara sebagai berikut, jika anda sudah terlanjur cocok dengan kesepakatan yang telah dibicarakan dan anda merasa tempat order kaos ini cukup meyakinkan anda sementara ini, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan anda bisa mencoba cara ini, yaitu mintalah nomer rekening transfer dari beberapa bank yang berbeda. Cara ini memang tidak sepenuhnya effektif, tapi minimal bisa mencegah hal yang kurang baik terjadi saat anda order kaos online. Biasanya sebuah usaha yang sudah tertata rapi dan profesional akan menyediakan beberapa rekening bank dengan nama yang sama. Misal dari BRI, BCA, BNI dll nama pemilik accountnya biasanya sama.

Ketiga adalah menggunakan jejaring social yaitu facebook, pelaku usaha dibidang layanan order kaos lewat online hampir semuanya menggunakan fasilitas di facebook. Karena facebook sangat membantu dalam pemasaran dan berbagi informasi seputar usaha mereka selain website. Namun demikian tidak semuanya membuat account pribadi, biasanya mereka membuat account dengan nama usaha mereka. Lalu bagaimana cara anda meyakinkan diri anda bahwa penyedia jasa pengerjaan order kaos online ini benar-benar ada. Lakukan beberapa langkah berikut, carilah website yang memasang link account facebook pribadi atau usaha diwebsitenya, jika tidak carilah yang memasang fan page di websitenya. Setelah anda pilih-pilih add account facebooknya atau join di fan page nya. Setelah di approve cob lihat aktivitas dan comment-comment di dindingnya. Cobalah untuk melihat teman-temannya, jika tidak bisa add-lah beberapa orang yang sering comment di statusnya. Setelah itu coblah cari informasi sebanyak mungkin tentang tempat order kaos yang anda maksud dengan cara anda.

Sementara hanya cara ini yang bisa saya sarankan, namun memang cara yang pertamalah yang paling effektif untuk dilakukan. Jangan takut order kaos online, banyak cara untuk mengamankan transaksi anda, semoga bermanfaat dan terimakasih.

SUMBER
http://www.indie-shirt.com/2011/04/tips-aman-order-kaos-online.html

Fashion, Kaos, dan Komunikasi



Ngomongin kaos gak ada matinya memang unik, menyerupai T dengan bolongan di leher dan lengan, dan bawahnya yuk simak tentang kaos dan modernsasi diambil dari blog boikemulya.blogspot.com , segera kita simak menjadi modern dengan kaos.

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong [1] sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat (T-Shirt King).

Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakain dalam tersebut untuk pakain luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955) (Cullum-Swan dan Manning, 1990). Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, sepertitank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb.

Fashion, Kaos, dan Komunikasi
Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion.

Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia ( high fashion ) (McRobbie, 1999). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashionadalah unfashion (Hebdige, 1999).
Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial.

Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion ( unfashion? ). [2] Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan low fashionyang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal. 


Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), institusi (UGM, UI, ITB, De Britto). Kaos oblong lainnya mengkomunikasikan kelompok atau kolektivitas (Canissi Seminarium, Pro Iustisia), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian(Jakjazz, Pameran AWAS!), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), pengalaman ceremonial (KKN UGM 2000), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (Awas Pemilu 97 Curang, kaos-kaos Dagadu, Joger).

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”). 

[4]
Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, saya pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. 

Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya. Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch

Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman saya yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”).

Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai.

Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”. 

[5]
Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).

Kaos dan Kehidupan Modern
Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). 

Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya (Rojek, 2000).
[6]
Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu ” Smart and Smile “, kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. 

Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile

Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.

Referensi
§ Ajidarma, Seno Gumira, 2001, “Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU”, Bernas , 12 Januari 2001.
§ Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, “Codes, Chronotypes and Everyday Objects”, makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/
pkm1.txt
§ Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.
§ Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.
§ McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.
§ Rojek, Chris, 2000, “Leisure and rich today: Veblen”s thesis after a century”, Leisure Studies19 (2000), hal. 1-15.
§ T-Shirt King, “History of American T-Shirt”. Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html
Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi “Art on T-Shirt”, Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001.

Catatan
[1] Dalam tulisan ini saya memakai kata kaos oblong dan kaos secara bergantian, keduanya menunjuk pada kata dalam bahasa Inggris t-shirt .
[2] Betsy Cullum-Swan dan P.K. Manning (1990) membuat diferensiasi fashion dengan lebih rinci, yang terdiri dari high fashion , mass fashion , dan vulgar fashion . Yang termasuk dalam high fashion adalah pakaian yang didesain secara khusus untuk orang-orang khusus dan dijual di outlet-outlet khusus. Dalam kecenderungan fashion dunia sekarang ini high fashion tidak bisa dilepaskan dari keberadaan para desainer profesional, utamanya yang biasa disebut sebagai desainer Parisian. Mass fashion di sisi lain lebih merupakan sebuah sistem mencipta, mendistribusikan, dan menjual salinan dari pakain karya para desainer. Sementara vulgar fashionmerupakan pakaian yang diciptakan lewat produksi massal dari salinan mass fashion “selang beberapa waktu setelah sebuah produk mass fashion beredar di pasaran. Untuk diskusi ini, saya menyederhanakan diferensiasi ini menjadi dua bentuk saja, high fashion dan low fashion. Yang terakhir ini merupakan penggabungan dari mass fashion dan vulgar fashion .
[3] Karena itu pameran “Art on T-Shirt”"yang disertai dengan penjualan secara terbatas kaos yang dipamerkan”bisa dilihat sebagi usaha menaikkan gengsi kaos atau usaha untuk memasukkan kaos ke dalam high fashion .
[4] Bagaimana pesan dalam kaos sampai ke pembaca/penonton adalah persoalan lain lagi. Untuk bisa dikatakan berhasil, klaim atas status atau identitas dalam pesan membutuhkan legitimasi dari pembaca/pentonton. Adalah tidak mungkin membuat interpretasi atasnya hanya berdasar pada kaos itu sendiri (klaim pemakainya). Setiap pesan dalam kaos sebenarnya sangat samar-samar ( equivocal ) dan pembaca/penonton mungkin tidak percaya dengan pesan-pesan itu. Bisa diselidiki lagi, apakah kaos bisa dijadikan alat manipulasi simbol status? (seperti kaos “Karl Marx, Since 1867″ dalam pameran ini atau kaos-kaos bergambar Che Guevara), apa yang diklaim dan siapa yang mengklaim? Dengan kata lain, tanda ( sign ) dan wahana tanda ( sign vehicle ) pada kaos menyampaikan koherensi dan integritas representasional yang ambigu.
[5] Rojek (2000) memberikan gambaran yang rinci bagaimana selebritis menjadi kaya raya karena mengiklankan berbagai produk industri pakaian. Dan mereka ini pada gilirannya akan menjadi salah satu agen pencipta fashion yang sangat penting.
[6] Sisi lain dari hal ini adalah kaos juga merupakan komoditas dalam budaya konsumen yang keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari leisure class . Ajidarma (2001) mengaitkan kaos dengan budaya pop yang selalu bergelut dengan pasar.